Seusai difullkan dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) kedelapan belas di Riau lalu, kini saatnya Riau balik akan merencanakan ajang Olahraga Nasional yang lainnya. Dalam beberapa waktu kedepan pada tanggal 7 hingga tanggal 13 bulan Oktober ini, Riau akan menjadi sang tuan rumah lantaran akan menghelat Pekan Paralimpic Nasional (Papernas). Dan sehubungan dengan diadakannya ajang olahraga tersebut, event itu akan ditujukan kepada para atlet penyandang cacat , dan dipastikan provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) juga akan berpartisipasi dalam kompetisi tersebut dan akan menerjunkan para atlet yang menjadi kebanggaannya.
Dikatakan oelh Suharyanto selaku Ketua Nasional Paralimpic (NPC) kota Balikpapan, para atlet yang berasal dari Kalimantan Timur (Kaltim) akan beranjak kembali menuju Riau tepat pada tanggal 5 Oktober nanti. Beberapa nama kontingen yang akan digiring ke ajang olahraga tersebut telah terdaftar, dan secara merata provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berencana menerjunkan atletnya sebanyak delapan puluh orang kontingen menuju ajang Pekan Paralimpic Nasional (Papernas) itu. Dan pada ajang yang dihelat itu akan dikompetisikan sebanyak sebelas cabang olahraga.
Dari kesebelas cabang olahraga tersebut diantaranya ada catur, angkat berat, atletik, bulu tangkis, futsal, bola voli duduk, panahan, tenis lapangan, renang, boling, serta tenis meja. Sehingga daerah Kalimantan Timur (Kaltim) sendiri akan menerjunkan sebanyak delapan puluh atletnya untuk masuk ke sebelas cabang olahraga (cabor) tersebut. Dan merujuk total altet yang akan berkompetisi pada ajang Pekan Paralimpic Nasional (Papernas) itu sebanyak seribu tiga ratus orang atlet.
Meskipun begitu, NPC Kalimantan Timur (Kaltim)
akan menargetkan guna sukses menyabet titel tiga besar di generic viagra online ajang Papernas tahun ini. Ambisi itu telah setara dalam estimasi yang dijalankan dan melihat pada raihan prestasi para atletnya serta pertarungan kontingen nasional.
Winny Erwindia yang merupakan Ketua Komite Olahraga Nasional
Indonesia bagi daerah DKI Jakarta, merasa puas dan bersyukur atas apa yang telah dipersembahkan oleh para atletnya dalam berjuang menghadapi persaingan dari kontingen daerah lain dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) kedelapan belas yang diselenggarakan di Riau tersebut. Dengan mampu mengoleksi medali emas sebanyak seratus sepuluh buah medali. Hal tersebut mampu terwujud atas usaha maksimal yang dilakukan oleh para atletnya, dengan ketekunan serta fokusnya dukungan dari seluruh pihak.
Sampai pada penutupan Pekan Olahraga Nasional (PON) kedelapan belas tersebut yang dilakukan pada hari Kamis malam tepatnya pada tanggal 20 September yang lalu. Kedudukan dari masing-masing kontingen nampak begitu jelas, DKI Jakarta mampu menempati posisi teratas atas raihan medali yang dikumpulkan oleh kontingen tersebut serta berhak menjadi sang juara umum. Kemudian dibuntuti oleh kontingen yang berasal dari Jawa Barat dengan kemampuan para atletnya yang mengoleksi capaian medali emas sebanyak seratus dua buah medali. Kontingen asal Jawa Timur menjadi peringkat ketiga dengan koleksi medali emas sebanyak delapan puluh tujuh buah, disusul oleh kontingen asal Jawa Tengah yang sukses meraup medali dengan cakupan empat puluh lima buah medali emas, serta di posisi yang kelima di tempati oleh kontingen yang berasal dari Kota Tepian yakni Kalimantan Timur (Kaltim) dengan catatan perolehan medali emas sebanyak empat puluh empat buah medali. Dan yang sebagai sang tuan rumah, Riau hanya mampu menghuni posisinya pada peringkat keenam.
Bagi Winny, dengan adanya usaha yang cukup menguras tenaga bagi kontingen asal DKI Jakarta tersebut telah dilakukan sejak proses rekrutmen, pembinaan prestasi, proses monitoring serta evaluasi dan berbagai program
diklat lainnya. Support budget dana pun turut menopang kesuksesan kontingen itu
Sampai di babak perdelapan final tim voli putri Jawa Timur belum menjumpai musuh tersulit mereka. Ketika bertatapan dengan tim tuan rumah sendiri pada hari Sabtu kemarin, Maya PW dan rekannya sukses menjadi juara dengan gampang dan menutup laga atas capaian skor yakni 3-0 pada Hall Voli terbuka di Universitas Islam Riau. Dan sekarang merupakan waktu untuk berusaha sekuat tenaga bagi tim Jawa Timur, lantaran mereka akan bertatapan dengan tim DIY Jogjakarta yang tak lain adalah tim juara
pada hari Senin besok.
Kegigihan yang ditunjukkan oleh DIY telah menakjubkan, hal itu nampak pada kesuksesan mereka dalam mengalahkan DKI Jakarta pada hari Sabtu kemarin.
Tangkisan dari DIY lebih gesit dan kuat, alhasil menjadikan para pemain asal DKI mengalami sedikit keputus asaan. Dengan slow, tim Jogjakarta mampu menjadi yang terdepan dari DKI, dan itu lah yang membuat mereka menjadi sang juara dengan torehan skor yakni 3-1. Kesuksesan tersebut mampu melangkah menuju ke babak semifinal secara langsung yang di sambut dengan gembira oleh para pemainnya. Sebab, kondisi tersebut merupakan sejarah baru bagi mereka untuk mampu masuk ke dalam empat besar di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Namun, diprediksi bahwa ketika berhadapan dengan tim Jawa Timur, DIY tidka mampu menerjunkan atlet yang menjadi punggawa yakni Rahma Fidela Noviyanti. Hal tersebut disebabkan oleh cedera yang terjadi pada Rahma tepat pada engkelnya di set yang perdana.
Sedangkan untuk tim Jawa Timur, karena tim mereka mampu menundukkan tim asal tuan rumah itu pula lah yang mengakibatkan mereka lebih optimis dalam menghadapi kompetisi selanjutnya. Pada set yang ketiga pelatih Jawa Timur yang tak lain yaitu Machfud Irsyada menerjunkan pemain pelapisnya. Dan terbukti itu tidak jauh lebih baik daripada pemain utama
Atlet lari Triyaningsih akhirnya berhasil membuntuti capaian rekor Pekan Olahraga Nasional (PON) yang sebelumnya telah di raih oleh Agus Prayogo. Triyaningsih yang berada pada nomor lari 10.000 meter memiliki haknya untuk memperoleh medali emas untuk yang keduanya setelah pada nomor lari jarak 5.000 meter juga mampu menyabet medali yang sama.
Triyaningsih sukses memecahkan rekor Pekan Olahraga Nasional atas nama dirinya sendiri yang terwujud di tanggal 11 Juli tahun 2008 yang lalu dimana ketika menjalani Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kaltim dengan torehan time yakni 34 menit 21,60 detik.
Setelah menjalani kompetisinya di Stadion Atletik, Pasi Riau, Rumbai pada hari Jum’at tanggal 14 September 2012 kemarin malam, Triyaningsih mengutarakan bahwa dirinya telah mengetahui akan torehan waktunya telah berhasil memecahkan rekor, oleh sebab itu atlet lari Triyaningsih melambatkan langkahnya memasuki garis finish.
Ketika berada di dalam laga kompetisi itu, pelari Triyaningsih terlihat memperlambat speed langkahnya menuju garis finish. Hal itu jelas nampak di beberapa meter menuju
akhir. Ditambah lagi dirinya yang mengetahui bahwa musuh tersulitnya yakni Feri Subnafeu, yang merupakan atlet lari asal Kalimantan Timur (Kaltim) yang hanya mampu meraih medali perak itu telah tertinggal jauh darinya.
Performa Triyaningsih di malam itu hampir setara dengan apa yang ia tunjukkan ketika bertanding di jarak 5.000 meter dan berhasil menggondol medali emas kategori atlet lari putri. Keunggulannya terlihat sejak awal, bahkan ia sanggup melampaui Feri Subanfeu yang ternyata masih memiliki satu kali putaran yang lebih banyak daripada Triyaningsih. Padahal kompetisi tersebut tengah meninggalkan dua kali putaran saja. Dan di sisi yang lainnya, atlet lari Yulinaningsih asal Jawa Timur berada pada nomor lari tersebut mampu meraih medali perunggu.
Gelaran Pekan Olahraga Nasional yang ke 18 di Riau ini memang terbilang berjalan tidak selancar sebagaimana mestinya. Banyak masalah yang terjadi di lapangan, seharusnya masalah ini tidak menjadi sesuatu yang harus diperkarakan karena mengingat bahwa persiapan memang sudah dilakukan jauh-jauh hari. Namun pada saat penyeleggaraan, ternyata masih banyak hal yang harus dirampungkan. Adapun beberapa masalah yang sampai dengan saat ini belum selesai adalah, masalah venue yang masih dalam pengerjaan, dan juga tidak ketinggalan tempat tinggal atlit selama berada di Riau yakni Wisma Atlit pun ikut terbengkalai dengan ketidaksiapan ini. Malahan, baru-baru ini ada wacana yang mengatakan bahwa PON yang akan datang akan dilakukan di dua provinsi yang berbeda. Hal ini bertujuan agar masalah serupa tidak akan pernah terulang lagi.
Rencananya PON akan diselenggarakan kembali pada tahun 2016 di
Jawa Barat. Dan pada tahun 2020 sampai dengan sekarang belum ditentukan siapa yang akan menjadi tuan rumah pada penyelenggaraan gelaran yang digelar selama empat tahun sekali. Adapun rencananya adalah Aceh dan juga Sumatera Utara. Kedua daerah ini memang terlibat dalam sebuah bidding yang menentukan siapa yang akan terpilih menjadi tuan rumah. Namun juga bukan mustahil bahwasanya keduanya akan melakukan kerja sama dan masalah yang terjadi pada PON XVIII Riau tidak akan terulang lagi.
“Seperti halya Piala Dunia, event tersebut bisa dilakukan di dua negara lagi, kenapa hal ini tidak dilakukan di PON saja, ” ungkap Andi Malarangeng.
KONI Sumatera Selatan yakni Muddai Madang, mengaku sangat setuju untuk bisa melakukan hal tersebut. Bila pelaksanaan PON dilakukan hanya pada satu tempat, jelas itu akan menjadi mubazir setelah event lebih besar.